Senin, 10 September 2012

Mengenang Sahabat

Ini tentang seorang yang baik, berbakti sama orang tua, orang yang ramah, pintar, rela berkorban, pekerja keras, tapi sayangnya dia sudah dipanggil Yang Maha Kuasa saat umurnya masih belum genap seperempat abad dan belum sempat berkeluarga. Dia adalah sobatku, yang lama sudah nggak ketemu. Sebut saja namanya Awan. Dulu rumah kita sama-sama satu kampung, sampai sekarang sih rumahnya masih tetap, cuma sejak beberapa tahun lalu dia kerja di Malang, jadi kita sudah jarang banget ketemu. Tapi menurutku lebih baik dia kerja jauh seperti itu, tinggal di Malang, daripada harus tinggal di Surabaya tapi rawan terkontaminasi. Terkontaminasi?? Ya, gitu aku nyebutnya, karena kondisi keluarganya nggak stabil, itu bahasa halusnya. Ia punya 6 kakak, 3 kakak laki-lakinya termasuk brandalan dan 2 diantaranya sudah pernah masuk penjara, praktis yang baik secara attitude tinggal kakak tertuanya, dan 2 kakak perempuannya, sayangnya yang good attitude itu kondisinya kurang mapan, dan harus diakui kalau si Awan yang paling mapan meskipun dia anak bungsu. Ibunya sudah lama meninggal dunia, ayahnya kasihan, baru meninggal hampir setahun lalu karena sakit. Sejak masih sekolah, Awan memang pintar, kita pernah satu sekolah waktu SD dan SMP, tapi dia adik kelasku. Dia selalu ranking sehingga banyak dikenal oleh guru-guru. Attitudenya juga baik, sederhana, dan nggak neko-neko. SMA kita sudah tidak satu sekolah lagi, dia memilih masuk SMK. Aku memaklumi karena habis lulus dia bisa langsung kerja buat membantu ayahnya. Dan benar saja, setelah lulus SMK, dia kerja dan sejak itu kita jarang ketemu, sampai aku dengar kabar kalau dia kerja di salah satu toko buku terkenal di Indonesia dan ditempatkan di Malang, hingga kondisinya cukup mapan sekarang, berkat kerja kerasnya. Sayangnya kehidupan dia di dunia ini tidak bisa lama, 9 September 2012, disaat umurnya masih sekitar 23 tahun, dia meninggal dunia karena sakit. Aku tidak menyebutkan sakit apa, buat menghormati dia. Dari situ aku mikir, kenapa orang sebaik Awan secepat itu meninggal? Pertanyaan yang nggak berujung karena tentu cuma Tuhan yang tahu, namun kita bisa mengambil hikmahnya. Orang seperti Awan itulah yang lebih pantas dijadikan inspirasi, yang talk less do more, bukan talk more do less macam motivator. Farewell sobat. Semoga segala kebaikanmu diterima Tuhan, hiduplah tenang dan damai di alam sana.

Bojonegoro Trip, Takjub dengan Pembenahan PT Kereta Api

Setelah sempat lama nggak naik kereta api, akhirnya 8 September kemarin aku bisa naik kereta api lagi walaupun cuma buat tujuan Bojonegoro. Kalau cuma bisa naik lagi sih udah biasa, tapi ada yang tidak biasa dan beberapa hal baru di perkeretaapian Indonesia. Sejak tahun lalu sebenarnya aku sudah sering dengar kalau di PT Kereta Api Indonesia ada banyak perubahan terutama perubahan ke arah positif. Lebih tepatnya sejak Ignasius Jonan menjadi Dirut PT Kereta Api Indonesia pada 2009 lalu. Saya sering dengar kalau sekarang peron di stasiun-stasiun harus steril dari penumpang saat kereta api yang akan mengangkut mereka belum datang, pembelian tiket tujuan jarak jauh harus sesuai dengan nama di KTP pemilik tiket, jadi tiap penumpang cuma memegang 1 tiket aja, terus jumlah penumpang harus pas dengan jumlah tempat duduk di gerbong, berlaku buat seluruh kelas baik itu eksekutif, bisnis, dan eksekutif, jadi nggak ada namanya penumpang berdiri, dan sebagianya. Pertama aku kurang percaya, tapi ternyata benar. Kembali ke topik ke Bojonegoro diatas, kali ini aku bener2 takjub karena penertiban-penertiban itu ternyata benar-benar diterapkan. Dulu masuk ke Stasiun Pasar Turi aja agak ogah-ogahan karena terkesan kotor, sumpek, padat penumpang dan kurang teratur, tapi sekarang stasiun lebih bersih, padat penumpang sih masih tetap, cuma lebih teratur, andaikan sampai ada yang ngemper pun nggak terlalu lama, peron di dalam stasiun steril dari calon penumpang, jadi penumpang baru boleh masuk peron sekitar 15 menit sebelum kereta api berangkat, penjagaan juga lebih diperketat, penjual makanan nggak keliatan bersliweran di peron dalam maupun di dalam kereta. Terus masuk ke kereta Cepu Express, busyet, kelas ekonomi tapi ber-AC, dalamnya terang, keliatan bersih, cukup mewah untuk sekelas kereta api ekonomi, maklum juga, masak kereta ekonomi AC sama kayak kereta ekonomi biasa? Walaupun gitu, kabarnya kereta api ekonomi biasa pun sekarang lebih bagus, terutama sejak diterapkannya kebijakan tidak boleh ada penumpang berdiri maupun pedagang asongan di kereta api termasuk kelas ekonomi, jadi keliatan lebih bersih, cuma aku belum pernah tahu sendiri, mungkin lain kali juga tahu kalau pas naik KA kelas ekonomi biasa.
Yang baru aku tahu juga waktu naik KA Cepu Express itu di dalam kereta ada cleaning service-nya, tiap berapa jam gitu dia menyapu lantai kereta, jadi tetap bersih sampai stasiun tujuan, terus ada juga layar monitor elektronik panjang di ujung-ujung gerbong bertuliskan nama kereta dan setiap melewati maupun berhenti di stasiun tertentu, tulisan di layar itu berganti menjadi nama stasiun tersebut. Hmm..berguna banget buat penumpang yang pengen tahu sudah sampai di mana perjalanan keretanya. Sampai tujuan juga tidak sampai terlambat, relatif tepat waktu seperti yang tertulis di tiket. Banyak banget kelebihannya sekarang, mungkin kekurangannya (Kereta Api Cepu Express) adalah jarak antar tempat duduk di depannya kurang luas, jadi kaki tidak bisa selonjor enak, kalaupun mau selonjor, kakinya dinaikkan ke tempat duduk di hadapan kita, tentu saja agak sungkan kalau di hadapan kita ada penumpang lain. Dan juga suara mesinnya cukup noisy yang bikin suasana di dalam kereta cukup berisik. Least but not last, salut buat PT Kereta Api Indonesia yang secara keseluruhan sudah berbenah banyak demi kenyamanan para pengguna kereta api. Semoga pembenahan ini tetap dipertahankan atau semakin ditingkatkan sekalian. Two thumbs up.

Sabtu, 19 Februari 2011

Hiburan ala United: Ciri Khas dari Pertandingan-Pertandingan United yang Membuat Kita Betah untuk Menonton

Manchester United tahu bagaimana cara menghibur pendukungnya. Tim kebanggaan kita ini tidak hanya menyajikan permainan sepakbola indah, tetapi juga menyajikan drama sepakbola yang membuat pertandingan-pertandingan United merupakan sebuah entertainment tersendiri. Ada tiga hal yang menjadi ciri khas hiburan ala Manchester United.
Pertama adalah kemenangan telak. Pertandingan sepakbola menjadi menyenangkan untuk dinikmati jika tim kesayangan kita berhasil mengalahkan tim lawan dengan skor mencolok. Perasaan superior dan ditakuti tim lawan akan muncul saat sebuah tim berhasil mencetak skor besar. Hanya saja unsur ketegangannya kurang kita rasakan. United berkali-kali mengalahkan lawan-lawannya dengan selisih lebih dari empat gol. Bahkan menurut pengamatan saya, jika dalam satu musim kompetisi liga United pernah mencetak kemenangan minimal 5-0 (syukur-syukur kalau lebih), maka di akhir musim United seringkali menjadi juara liga. Sayangnya musim ini daya gedor United terkesan agak kurang garang karena United lebih sering menang dengan skor selisih 1 gol dan rata-rata hanya mencetak dua gol per pertandingan. Untungnya, United sudah pernah menang dengan skor 5-0 ketika melawan Birmingham, bahkan sempat lebih besar ketika mencetak angka 7-1 melawan Blackburn. Itu berarti United berpeluang besar menjadi juara liga musim ini.
Kedua adalah The Late Show. Maksudnya dalam konteks ini adalah gol-gol yang terlambat datang, entah itu gol balasan penyama kedudukan maupun gol penentu kemenangan yang dicetak menjelang menit-menit terakhir setelah keunggulan United disamakan lawan atau saat skor 0-0 sepertinya menjadi skor akhir. Musim ini kita sering melihat United melakukannya, antara lain saat melawan Liverpool, Bolton, Stoke, Wolves, Aston Villa, WBA, Rangers, dan Valencia. Untuk yang ini, unsur ketegangan sudah cukup tinggi.
Namun, unsur ketegangan tertinggi adalah ciri khas ketiga, yaitu Fight Back atau dalam konteks ini maksudnya adalah membalikkan ketertinggalan skor menjadi kemenangan bagi United saat laga berakhir. Unsur ketegangannya tertinggi karena tidak hanya menunjukkan semangat pantang menyerah saja, namun semangat untuk tetap memenangkan pertandingan meskipun harus tertinggal berapapun skornya. Sangat dramatis! Mental juara tingkat tinggi benar-benar ditunjukkan saat United melakukan Fight Back. Sudah banyak pertandingan yang harus dlalui United dengan cara Fight Back. Namun saya akan memberi contoh empat pertandingan yang menurut saya paling mengesankan.
Pertama adalah saat bertandang ke Spurs musim 2001-2002. Saat itu United tertinggal 3-0 pada babak pertama, namun saat babak kedua, Spurs dibalas dengan lima gol hingga skor akhir 3-5 untuk United. Kedua, saat bertandang ke Highbury musim 2004-2005 dimana setelah tertinggal 0-1, akhirnya United unggul 2-4, dan ketika itu masih masa-masa perselisihan yang meruncing antara Keano dan Viera. Ketiga adalah final Champions League pada 26 Mei 1999, yang ini tidak perlu saya jelaskan lagi karena merupakan hal yang paling mengesankan bagi Manchester United beserta para Manchunian-nya dibandingkan dengan pertandingan-pertandingan lainnya. Dan yang terakhir adalah saat bertandang ke Blackpool musim ini (dari tertinggal 2-0 dibalik menjadi 2-3 saat pertandingan berakhir). Pertandingan ini menjadi salah satu yang mengesankan karena disaat sepertinya United menelan kekalahan pertamanya musim ini, ternyata hal itu tidak terwujud. Rekor tak terkalahkan tetap terjaga sampai 23 pertandingan liga bahkan menjauhkan diri dari kejaran Arsenal menjadi selisih lima poin.


Ardha Ichsan Asyari
Manchunian Surabaya

Antara Mou dan Pep, Dua Kandidat Utama Suksesor Fergie

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa masa kepelatihan Fergie di MU tidak akan lama lagi. Oleh karena itu MU harus segera bersiap-siap mencari calon pelatih baru. Dua nama telah dikait-kaitkan akan berlabuh di M16, siapa lagi kalau bukan Jose Mourinho dan Joseph “Pep” Guardiola.
Mou sudah jauh-jauh hari menyatakan ingin kembali merasakan atmosfir Liga Inggris dengan menjadi pelatih MU sebagai suksesor Fergie. Sedangkan beberapa minggu yang lalu pasca laga Il Classico antara Barcelona vs Real Madrid, giliran Pep yang menyatakan ingin menjadi pelatih MU pasca Fergie. Ia bahkan rela menunggu sampai Fergie pensiun dengan cara memperpanjang kontrak setahun lagi di Barca.
Dua nama itu memang dirasa pantas menjadi suksesor MU. Mereka adalah dua pelatih muda revolusioner dan paling berpengaruh saat ini. Mou dan Pep memiliki beberapa kesamaan yang membuat mereka cocok menjadi suksesor Fergie yaitu permainan indah nan menghibur, efektif, penuh determinasi, memiliki “insting membunuh lawan”, disiplin tinggi, memiliki sistem rotasi yang baik, serta bermental juara, unsur-unsur itulah yang selama ini diterapkan Fergie kepada MU-nya.
Namun disamping kesamaan, ada juga beberapa perbedaan diantara mereka. Jika Mou yang menjadi suksesor Fergie, maka bersiap-siaplah melihat MU tidak lagi mementingkan kemenangan besar dengan skor mencolok. Gaya permainan ala Mou memang menghibur, namun gol yang dihasilkan tidak terlalu besar. Sejak di Chelsea kemudian di Inter Milan, Mou jarang memenangkan pertandingan dengan skor besar. Baru di Real Madrid skor-skor besar tercipta dari taktiknya, itupun masih mengganjal Mou karena baginya yang penting bukanlah menang dengan skor besar namun malah kebobolan, melainkan menang dengan skor tidak terlalu besar namun gawang tidak sampai kebobolan. Selain itu, nasib para pemain muda home ground MU belum tentu terjamin karena Mou jarang sekali memanfaatkan pemain-pemain home ground. Ia lebih memilih mencari pemain berbakat dan berpotensi memberi perubahan terhadap tim dengan harga yang tidak terlalu mahal dan belum tentu pemain muda.
Jika Pep yang menjadi suksesor Fergie, maka gaya permainan MU yang selama ini lebih mengandalkan peran pemain sayap dan formasi 4-4-2 akan berubah menjadi lebih mengandalkan pada permainan merata di semua lini dengan gaya tiki-taka (permainan tik-tak dan umpan satu dua antar pemain) lebih cepat daripada gaya tik-tak ala Fergie dan cenderung menggunakan formasi 4-3-3 dengan seorang playmaker murni di lapangan tengah. Selain itu, pemain-pemain mahal juga akan didatangkan. Kita tentu tahu kesuksesan Pep mendatangkan pemain-pemain bintang berharga cukup mahal ke Barca antara lain Ibrahimovich, David Villa, sampai Mascherano.
Namun positifnya, MU akan tetap pada khasnya yaitu memenangkan pertandingan dengan skor-skor besar dan mencolok bahkan hal itu bisa terjadi lebih sering dibandingkan pada era-nya Fergie. Selain itu, nasib para pemain muda home ground lebih terjamin di tangan Pep karena ia lebih suka memanfaatkan jasa pemain-pemain muda home ground meskipun telah mendatangkan pemain mahal.
Mou dan Pep sebagai suksesor Fergie tentu sekarang masih sebatas wacana. Bisa saja satu diantara mereka dipastikan menjadi suksesor MU, atau bisa saja muncul nama lain diluar kedua figur itu yang berhak menahkodai MU selanjutnya. Yang pasti siapapun suksesornya, seluruh Manchunian di dunia berharap MU tetap meraih titel-titel bergengsi pasca ditinggal “sang dewa” Sir Alex Ferguson nantinya, jangan sampai bernasib tragis seperti rival Merah kita dari Merseyside.
We’ll never die, we’ll never die. We’ll keep the Red Flag flying high. ‘Cos Man. United will never die!!
Ardha Ichsan Asyari
Manchunian Surabaya

Sabtu, 23 Mei 2009

Sebagian Dampak Depresi Ekonomi di Hindia-Belanda

Pada abad 20, perekonomian Amerika Serikat (AS) telah independen dari pengaruh Eropa. Hal itu telihat terutama pasca Perang Dunia I dimana barang-barang produksi AS-terutama barang-barang produksi pertanian-meningkat pesat di Eropa. Hal itu menyebabkan sektor produksi dan keuangan AS menjadi nomor satu di dunia. Nilai saham perusahaan di bursa saham Amerika meningkat drastis diikuti penanaman saham oleh pribadi dan institusi. Pengangguran di sana nyaris tidak ada. Untuk menjual lebih banyak saham, perusahaan pegadaian memungkinkan calon pelanggannya untuk membeli saham “ambang batas” dengan cuma membayar sebagian kecil uang dan “meminjam” sisanya dari nilai sahamnya di pasaran. Dalam seketika, nilai saham terus meningkat dan melaju pesat hingga mencapai dua atau tiga kali lipat nilai pembeliannya. Sehingga perekonomian AS sangat ditentukan oleh kredit.
Hal itu ternyata berdampak negatif bagi perekonomian. Karena di AS kredit semakin melimpah dan uang yang sesungguhnya beredar amat sedikit, keuntungan-keuntungan pribadi dan perusahaan dalam tempo 24 jam tiba-tiba lenyap. Maka pada tanggal 29 Oktober 1929, saham-saham di pasaran nilainya jatuh. Gelombang kebangkrutan yang berawal dari Wall Street itu kemudian menyebar ke seluruh penjuru negeri dan akhirnya menyebar pula ke seluruh dunia. Bank-bank bangkrut, harga bahan pertanian menurun drastis, pabrik-pabrik banyak yang tutup dan perdagangan ekspor impor melemah. Itulah awal dari Depresi Ekonomi dunia yang berdampak pada merosotnya perekonomian dunia.
Dampak dari Depresi Ekonomi juga dirasakan di Indonesia. Hal yang dirasakan misalnya dari segi produksi pertanian. Misalnya yang terjadi di daerah penghasil tanaman padi. Pada masa depresi, ketika harga merosot, tekanan pajak yaitu pajak tanah di daerah-daerah itu meningkat secara relatif. Harga padi merosot tajam, dan sumber-sumber penghasilan uang lainnya (misalnya upah kerja di perkebunan Barat) mengering, penduduk di daerah itu harus menjual produksi mereka dengan bagian yang lebih besar daripada masa-masa sebelumnya untuk memperoleh cukup uang guna membayar pajak tanah.
Sedangkan keadaan di daerah tanaman ekspor juga merasakan kesusahan. Misalnya di daerah perkebunan karet. Harga karet juga ikut anjlok. Namun meskipun begitu, ekspornya tetap mencakup jumlah yang besar. Rupanya, para pemilik perkebunan karet ingin mengimbangi penurunan harga dengan jalan mempertahankan sedapat-dapatnya volume ekspornya, sejauh biaya-biaya memungkinkan. Dengan berbuat demikian, orang berharap akan dapat memperoleh uang dalam jumlah tertentu yang bagaimanapun diperlukan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban misalnya membayar pajak.
Inilah beberapa komoditi ekspor andalan Hindia-Belanda yang mengalami penurunan permintaan dari luar negeri sehingga harganya merosot. Harga gula kualitas superior misalnya merosot dari 13.09 gulden per 100 kg pada Oktober 1929 menjadi 6.25 gulden pada Juni 1932. Kopi Robusta dari 82.37 gulden per 100 kg pada Oktober 1929 menjadi 38.86 gulden pada Juni 1932. Karet mentah standar (crepe) dari 50 sen pada Oktober 1929 menjadi tujub sen pada Juni 1932. praktis semua komoditi lain, termasuk teh dan timah, dilanda kemerosotan harga.
Upah buruh juga ikut merosot sebagai akibat dari depresi ekonomi ini. Misalnya mingguan Adil yang terbit di Surakarta edisi Januari 1935 menyajikan suatu hasil penelitian yang dilakukan di kalangan para pekerja industri batik di kota Sala. Penulisnya adalah seseorang berinisial W. Menurut penelitiannya, suatu waktu di tahun 1932, para majikan mulai menurunkan upag buruh. Pada 1933 upah harian masih antara 75 sen sampai 100 sen atau satu gulden. Setahun kemudian, keadaan industri batik tidak membaik, justru memburuk. Tidak hanya upah yang makin dikurangi, tetapi jumlah buruh pun demikian, mereka yang masih diberi kesempatan bekerja hanya memperoleh 30 sen sehari.
Buruh yang dipertahankan hanya diberi kesempatan bekerja maksimal sepuluh hari dalam sebulan; jadi sebulan hanya menerima upah 300 sen atau tiga gulden. Rata-rata keluarga buruh terdiri dari empat orang. Dengan 300 sen sebulan atau 10 sen sehari, maka setiap anggota keluarga harus bisa hidup dengan dua setengah sen sehari. Jelas mereka tidak mampu lagi makan nasi. Mereka harus puas dengan makan bubur. Kebutuhan-kebutuhan lainnya seperti pakaian, minyak tanah, dan sebagainya tidak dapat mereka penuhi.
Depresi ekonomi juga berpengaruh pada bertambahnya jumlah penduduk di Hindia Belanda. Yang menyebabkannya adalah semakin banyak orang-orang Belanda yang datang ke Indonesia karena di Belanda sendiri juga merasakan jeratan Depresi Ekonomi. Kebanyakan dari mereka yang datang ke Indonesia adalah kaum pemuda karena di Belanda mereka sulit untuk memperoleh pekerjaan. Kedatangan mereka dikejutkan oleh suasana defensif dan prasangka rasial yang menyambut mereka. Namun, kembali ke kehidupan mereka sebelumnya di Eropa sudah tidak mungkin, dan kebanyakan dari mereka merasa tidak punya pilihan lain kecuali menyesuaikan diri dengan aman dalam benteng kulit-putih sehingga mereka membuat penduduk lama terlihat seperti “pecinta pribumi” yang sedang belajar.
Demikian beberapa dampak Depresi Ekonomi di wilayah Hindia-Belanda, sesuai dengan judul di atas, hanya beberapa dampak yang dimasukkan di dalam tulisan ini. Tentu saja masih banyak dampak-dampak lain yang tidak hanya pada sektor ekonomi, tetapi kuga politik, kependudukan, pendidikan dan lain sebagainya.


Daftar Pustaka

Djojohadikusumo, Sumitro. Kredit Rakyat di Masa Depresi .Jakarta: LP3ES.

Gouda, Frances. 2007. Dutch Culture Overseas, Praktek Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942. Jakarta: Serambi.

Swantoro, P. 2002. Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung menjadi Satu. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia

Yenne, Bill. 2004. 100 Kejadian yang Mengubah Sejarah Dunia. Delaprasta Publishing (tanpa kota penerbit).

Selasa, 19 Mei 2009

Sekilas tentang Majalah Panjebar Semangat

“Panjebar Semangat” Memasuki Tiga perempat Abad

Majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat telah berumur lebih dari 75 tahun. Umur yang cukup tua bagi sebuah media cetak. Meskipun demikian, sampai saat ini majalah tersebut masih tetap eksis ditengah persaingan yang semakin ketat dengan media cetak-media cetak lainnya yang semakin menjamur. Majalah ini terasa sebagai sebuah warisan sejarah karena didirikan oleh salah satu tokoh perintis Pergerakan Nasional yaitu dr. Soetomo.
Surat kabar Soeara Oemoem merupakan cikal bakal dari lahirnya Panjebar Semangat. Harian tersebut setiap kali terbit terdiri atas dua belas halaman. Delapan halaman merupakan halaman berbahasa Indonesia sedangkan empat halaman sisanya yang disebut volks editie (edisi rakyat) menggunakan bahasa Jawa.
Setelah melalui beberapa edisi, halaman Soeara Oemoem edisi rakyat kemudian dihapus (baca: dipisahkan). Sebagai gantinya, maka pada hari Sabtu tanggal 2 September 1933 diterbitkan majalah mingguan berbahasa Jawa yang diberi nama Panjebar Semangat (PS) yang diprakarsai dan dibiayai oleh dr. Soetomo. Sejak itu sampai kini, PS terbit setiap Sabtu.
Menurut Drs. Moechtar, pimpinan redaksi PS saat ini, pemisahan edisi rakyat Soeara Oemoem yang kemudian beralih menjadi PS disebabkan oleh masyarakat pada masa itu yang mayoritas belum mampu memahami bahasa Indonesia jika ingin membaca halaman yang berbahasa Jawa harus membeli satu edisi Soeara Oemoem. Mereka menganggap terlalu mahal dan kurang berguna karena delapan halaman yang berbahasa Indonesia tidak dapat mereka pahami.
Majalah PS memang sengaja menggunakan bahasa Jawa sejak pertama kali terbit karena seperti yang sudah dikemukakan pada paragraf sebelumnya, mayoritas masyarakat pada masa itu lebih memahami bahasa Jawa ketimbang bahasa Indonesia. Mengenai hal tersebut dapat dilihat dalam artikel dr. Soetomo berjudul “Toedjoean lan Kekarepan” (Tujuan dan Kehendak) yang menjadi editorial pada edisi perdana PS: (sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia)“…. Beribu-ribu banyaknya bangsa kita yang masih belum dapat berbahasa Indonesia, …. Hal ini terlihat di dalam pergaulan kita sehari-hari dan juga pada saat ada rapat. Di beberapa tempat, jika ada orang yang akan berpidato menawarkan pada para hadirin pilih menggunakan bahasa apa, mereka berkata serentak, minta menggunakan bahasa Jawa. ....”. Dengan begitu, pesan-pesan dan informasi yang disampaikan oleh PS dapat dipahami oleh para pembacanya.
Edisi perdana PS masih berupa lembaran koran yang terdiri atas empat halaman, kemudian berkembang menjadi tabloid berisi 16 halaman mulai edisi 7 September 1935 dengan sampul berwarna hijau. Baru pada tahun 1949 ketika pimpinan redaksi dipegang oleh Imam Soepardi, PS bertransformasi menjadi majalah setelah kembali terbit (reborn) karena sempat vakum sejak tahun 1942 disebabkan pemerintah militer Jepang yang berkuasa pada saat itu melarang penerbitan segala media massa berbahasa daerah. Tidak hanya itu, mesin-mesin zet Intertype dan percetakannya pun juga ikut disita dan tidak kembali.
Kelahiran kembali itu ternyata membawa berkah. Sambutan yang luar biasa tidak hanya datang dari masyarakat berbahasa Jawa di tanah air saja tetapi dari juga mereka yang bermukim di beberapa wilayah di mancanegara seperti Suriname, Kaledonia Baru, Malaya (Malaysia), Muangthai, Birma (Myanmar), Vietnam dan sekitarnya. Oplahnya pun semakin meningkat dari waktu ke waktu sampai mencapai 85.000 eksemplar menjelang tahun 1960.
Namun kondisi ini tidak berlangsung lama karena kondisi Indonesia yang kembali tidak menentu sampai menjelang G30S 1965 ikut mempengaruhi fase perkembangan PS yang kembali pada fase kritis. Oplah menurun akibat daya beli masyarakat yang rendah disebabkan oleh krisis ekonomi. Selain itu kualitas hasil cetak yang tidak bagus yang berakibat pada huruf-hurufnya yang sulit dibaca menyebabkan oplah PS menurun drastis menjadi hanya 18.000 eksemplar memasuki tahun 1966.
PS pun berbenah terutama pada pembenahan dan perbaikan alat-alat cetak yang bukan milik mereka sendiri. Secara perlahan-lahan oplah PS merangkak naik menjadi 22.000 eksemplar pada tahun 1968 dan semakin bertambah dari tahun ke tahun. Keberhasilan memiliki percetakan sendiri pada tahun 1975 setelah membeli alat percetakan dari Jerman ternyata juga ikut berpengaruh pada kenaikan oplah yang sampai menyentuh angka 66.000 eksemplar pada tahun 1985. Namun sekali lagi kenaikan itu tidak dapat terlalu lama dipertahankan karena setelah tahun 1985 oplahnya secara bertahap mengalami penurunan.
Tidak dapat dipungkiri jika semakin lama oplah majalah ini tidak sampai sebanyak pada masa jayanya. Ada beberapa faktor penyebab. Pertama, semakin menjamurnya media massa tentu saja menjadi saingan berat bagi PS. Kedua, kalau dahulu mayoritas masyarakat dapat memahami bahasa Jawa, kali ini sebaliknya. Masyarakat terutama generasi muda lebih memahami bahasa Indonesia. Ketiga, antusiasme yang kurang dari generasi muda terhadap majalah PS karena mengidentikkan sebagai majalahnya orang tua.
Tentu saja redaksi berusaha menyikapinya dengan memanfaatkan celah yang dapat dimasuki. Misalnya tidak menghapus rubrik Alaming Lelembut yang berisi cerita misteri karena rubrik ini cukup memiliki nilai jual yang tinggi. Selain itu redaksi juga menambah porsi halaman untuk rubrik Gelanggang Remaja karena ternyata rubrik ini diminati oleh kalangan remaja. Terbukti dengan banyaknya tulisan dari mereka yang masuk ke redaksi, misalnya cerpen, tips-tips, info-info yang berhubungan dengan gadget dan selebritis, dan sebagainya. Usaha redaksi terbukti mampu mempertahankan eksistensi PS sampai berumur tiga perempat abad ditengah persaingan ketat diantara bermacam-macam media massa yang semakin menjamur dewasa ini.

Senin, 18 Mei 2009

Sekilas Sejarah Gedung Nasional Indonesia (GNI) Surabaya

A. Awal Berdiri

Salah satu tokoh pergerakan nasional Indonesia yaitu Soetomo, memiliki peran yang penting bagi berdirinya Gedung Nasional Surabaya (GNI) Surabaya. Ia adalah orang yang mencetuskan ide pembangunan gedung tersebut. Sekembalinya ke Indonesia tahun 1923 setelah menyelesaikan studinya di Universitas Amsterdam dan Universitas Hamburg,[1] ia mendirikan perkumpulan Indonesische Studieclub (IS) pada tanggal 11 Juli 1924. Ia menjalankan perkumpulan tersebut berbekal pengalamannya ketika masih studi di Belanda menjadi anggota Perhimpoenan Indonesia. IS merupakan persatuan pertama di Hindia (Belanda) yang berusaha untuk meningkatkan kesadaran politik masyarakat pribumi dengan memberitahukan kepada mereka tentang situasi politik dalam dan luar negeri.[2] Selain itu, IS memusatkan perhatian kepada para penghuni kampung Surabaya dengan harapan agar anggota-anggotanya terbiasa peduli terhadap kesusahan kampung.[3] Pada bulan Januari 1931, IS diubah menjadi Persatoean Bangsa Indonesia (PBI).[4]

Soetomo mulai memiliki ide untuk mendirikan GNI ketika ia memotori IS. Latar belakang ide Soetomo tersebut adalah ketika bangsa Indonesia di Surabaya ingin mengadakan rapat-rapat umum di gedung-gedung (seringkali gedung bioskop) untuk membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan nasib rakyat jajahan, rapat-rapat tersebut gagal terlaksana karena tekanan politik pemerintah kolonial Belanda, padahal sewa gedung sudah dibayar. Ide tersebut disetujui oleh teman-teman seperjuangan Soetomo dari IS antara lain R.M.H. Soejono, R.P. Soenario Gondokoesoemo, R. Soedjoto dan Achmad Djais.[5]

Selain latar belakang tersebut, ide Soetomo juga diilhami dari gedung nasional milik Polandia. Hal tersebut terlihat dalam tulisan Soetomo yang berjudul Teladan dari Polandia yang ditulis tahun 1932. Ia terinspirasi dari rakyat Polandia yang mendirikan gedung nasionalnya ketika mengungsi ke Swiss akibat negaranya diserang bangsa-bangsa besar Eropa saat itu antara lain Jerman, Austria, Hongaria, dan Rusia. Gedung nasional Polandia digunakan oleh rakyat Polandia di pengungsian untuk berkumpul merundingkan perjuangan mereka merebut kembali Polandia.[6]

Langkah pertama yang dilakukan untuk mewujudkan pembangunan GNI Surabaya adalah membentuk dahulu Yayasan Gedung Nasional Indonesia (Stichting Gedung Nasional Indonesia) tanggal 21 Juni 1930 dihadapan Notaris H.W. Hazenberg kemudian disahkan oleh Raad van Justitie dan Hoggerechten di Batavia dahulu. Pengurus pertamanya antara lain:

Ketua : Dr. R. Soetomo

Penulis : R.P. Soenario Gondokoesoemo

Bendahara : R.M.H. Soejono

Komisaris : R. Soedjoto

Komisaris : Achmad Djais[7]

Perencanaan pembangunan GNI Surabaya adalah Ir. Anwari dan R. Soendjoto. Tanah yang diperuntukkan bagi pembangunan GNI dibeli dari Tuan Ruthe dan Maxen seharga f. 48.000 ditambah ongkos notaris dan bea balik nama sebesar f. 2000 dan f. 50.000, sedangkan rencana awal menelan biaya f. 200.000 untuk membangun kompleks GNI.[8] Lahan yang digunakan untuk pembangunan gedung itu terletak di jalan Bubutan, tepatnya ketiak gedung sudah jadi beralamat di Jalan Bubutan 85-87.

Para pendiri GNI juga bersama-sama menyumbang uangnya sejumlah f. 10.000 untuk pembangunan gedung ini. Untuk menambah dana, maka diadakanlah Pasar Derma Nasional di Kranggan yang ternyata cukup sukses. Bahkan ketika pembukaan, Soetomo menerima cek sebesar f. 30.000 untuk pembangunan GNI dari sumbangan dokter Indonesia yang tidak mau disebutkan namanya.

Pembangunan GNI mendapat sambutan cukup baik dari masyarakat. Mereka banyak menyumbang peralatan seperti batu merah, kapur, semen, pasir, dan sebagainya serta ikut membantu membangun. Bantuan tersebut tidak hanya datang dari masyarakat Surabaya saja tetapi juga dari beberapa wilayah di Indonesia. Selain itu, sumbangan juga datang dari anak-anak kecil yang mengorbankan celengannya dan diserahkan kepada Soetomo. Ludruk Cak Durasim (Ludruk Genteng Surabaya) juga ikut memeriahkan Pasar Derma Rakyat dengan mengadakan pertunjukan dalam pasar tersebut tanpa meminta bayaran.[9]

Peletakan batu pertama untuk fondasi GNI diresmikan tanggal 13 Juli 1930 di Bubutan, Surabaya [10], dilakukan oleh Kaum Isteri Indonesia dan diabadikan dengan batu peringatan dari marmeran oleh Kongres Wanita PPII (Perikatan Perhimpoenan Isteri Indonesia) pada tanggal 13 Desember 1930.[11] Dalam Kongres PPII tersebut menetapkan asas perkumpulan itu yaitu : kebangsaan, persamaan, penghargaan hal di antara laki-laki dan perempuan, kesosialan.[12] Pembangunan gedung ini berjalan agak lambat. Menurut Soetomo, hal itu disebabkan malaise atau krisis ekonomi yang melanda dunia waktu itu. Selain itu, masih menurutnya, rakyat belum memiliki semangat yang tebal seperti rakyat Polandia karena belum mantapnya persatuan dan pengabdian terhadap Ibu Pertiwi belum meliputi seluruh rakyat.[13]

B. Fungsi dan Perkembangan GNI Surabaya

Sayangnya tidak diketahui persis kapan pembangunan GNI Surabaya selesai total. Yang pasti, awal tahun 1932 sebagian pembangunan gedung sudah selesai[14] dan sudah digunakan untuk tempat berlangsungnya Kongres Indonesia Raya I mulai tanggal 1-3 Januari 1932 yang dihadiri juga oleh Soekarno setelah ia keluar dari penjara Sukamiskin pada Desember 1931.[15]

Soetomo berpidato dalam kongres tersebut. Ia menghimbau perlunya persatuan dari seluruh kalangan masyarakat untuk mencapai kemerdekaan, selengkapnya sebagai berikut:

Sudahlah semestinya apabila orang-orang yang berilmu, pujangga-pujangga, pendeta-pendeta, kaum politikus, anggota-anggota Majelis Rakyat Rakyat, pers dan lain-lain golongan-golongan yang berpengaruh di dunia ini, menetapkan keyakinan dan menaburkan kepercayaan bahwa kemerdekaan itu hendaknya haruslah menjadi pedoman lahir-bathin dari sekalian bangsa adanya.Apakah [sic.] kita dapat memikul kewajiban yang mulia dan luhur, akan tetapi berat dan penuh dengan kesakitan dan duri rintangan yang runcing-runcing itu, untuk memanggul obor kemerdekaan guna memberi cahaya di sekelilingnya? Kitapun dapat juga![16]

Akhirnya Soetomo berkata bahwa perbedaan-perbedaan pendapat diantara barisan pergerakan nasional adalah ibarat warna-warninya bunga, yang memperindah tiap kumpulan karangan bunga yang dipersatukan dalam suatu wadah tertentu. Keindahan warna-warni itulah yang ia maksud dengan corak dan sifat Kongres Indonesia Raya I.[17] Keinginan Soetomo untuk menjadikan GNI sebagai tempat pertemuan untuk membicarakan tujuan kemerdekaan Indonesia dari kolonialisme seperti halnya yang dilakukan oleh rakyat Polandia nampaknya terwujud.

GNI Surabaya juga menjadi sarana pementasan kesenian yang berbau kritik politik, yang terkenal adalah kelompok Ludruk Cak Durasim. Cak Gondo Durasim, pemimpin kelompok ludruk tersebut yang terkenal dengan peran sebagai badut, melancarkan kritik-kritik sumbang terhadap pemerintah kota praja dan terhadap penjajahan Belanda pada umumnya. Kritik-kritik tersebut dibawakan dengan cara halus dan dengan kejenakaan serta gaya pidato kampung yang terpadu ke dalam format ludruk.

Pada tahun 1930 Cak Durasim mengumumkan pembentukan jenis ludruk yang sepenuhnya baru dan tidak main di kalangan kampung lagi, melainkan di panggung modern GNI. Gaya baru yang dimainkan itu tajam dan progresif dengan meningkatkan komentar-komentar tajam sebelumnya ke tingkat mendekati komentar sosial, yang dilakukan dengan humor dan isi yang serius.[18]

Dialog-dialog yang dilontarkan Ludruk Cak Durasim berubah menjadi progresif dalam pementasannya karena sebagian disebabkan oleh saran Soetomo. Keterlibatan Soetomo di dalam kelompok tersebut bermula ketika tahun 1928 ia dan para aktivis studieclub-nya mulai berminat terhadap persoalan-persoalan kampung dan diperkenalkan dengan karya dan gagasan dari Cak Gondo Durasim lewat ludruknya.[19] Namun Soetomo tidak terlibat sebagai aktor pementasan-pementasan dalam pertunjukan-pertunjukan kelompok tersebut.

Ludruk Cak Durasim kemudian menjadi partner bagi PBI. Dalam hal ini, tujuan ludruk dan tujuan pergerakan menjadi terpaut. GNI Surabaya kemudian menjadi pementasan kelompok ludruk tersebut secara teratur dan menghasilkan pemasukan bagi PBI yang kemudian dari pemasukan itu dibagi dua dengan Ludruk Cak Durasim. Berkat pementasan di gedung tersebut, ludruk kemudian sempat menikmati popularitas yang besar dengan penghasilan yang memadai. Namun popularitas tersebut tidak berlangsung lama, salah satu penyebabnya adalah adanya pesaing baru yaitu kesenian ketoprak. Cerita yang lebih beragam mulai dari cerita-cerita wayang dengan kemasan modern sampai cerita rakyat setempat membuat ketoprak menjadi lebih populer bagi masyarakat Surabaya. Banyak kelompok-kelompok ketoprak bermunculan pada waktu itu. Karena begitu populernya ketoprak sampai-sampai ludruk pun popularitasnya tergeser. Imbasnya adalah pertunjukan ini yang awalnya terbatas pada pertunjukan kampung, dituntut masyarakat supaya manggung di GNI Surabaya pada malam-malam ketika ludruk tidak pentas.[20]

Penggunaan awal GNI Surabaya sebagai tempat pertemuan kaum pergerakan menandakan bahwa gedung ini merupakan simbol politik bagi masyarakat Surabaya yang memiliki hubungan dengan kaum priyayi. Mengapa disebut demikian? Pada masa-masa itu (1930-an) kaum yang terjun ke dunia politik adalah mayoritas dari kaum priyayi karena mereka lah yang memiliki kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi daripada masyarakat pribumi biasa. Dengan bekal pengetahuan yang luas, mereka yang memperjuangkan nasib rakyat biasa supaya tidak lagi ditindas oleh kolonialisme. Tentu saja cara mereka memperjuangkan berbeda-beda, ada yang progresif dan ada yang sedang-sedang saja, kooperatif dengan Belanda meskipun tidak sepenuhnya. Organisasi milik Dr. Soetomo yaitu IS (PBI) adalah salah satu yang tidak terlalu progresif karena masih menghalalkan sikap kooperatif dengan Belanda.

Digelarnya pertunjukan ludruk di gedung ini atas bantuan PBI merupakan salah satu usaha kaum priyayi (PBI) untuk lebih mendekatkan diri dengan masyarakat biasa. Pagelaran ludruk, apalagi oleh Ludruk Cak Durasim, tentu saja menjadi daya tarik bagi masyarakat biasa untuk datang ke gedung ini jika dibandingkan dengan menghadiri rapat kaum priyayi. PBI menggandeng ludruk ini agar memiliki penghubung kepada masyarakat dalam menyalurkan tujuan politik dan kritiknya kepada kolonialisme. Kritik melalui dialog-dialog dalam ludruk akan lebih mengena dan dipahami oleh masyarakat karena bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari.

GNI Surabaya tetap berfungsi sebagai tempat pementasan kesenian ketika tentara pendudukan Jepang memerintah Surabaya. Namun untuk fungsinya sebagai tempat pertemuan sudah berkurang. GNI Surabaya sudah tidak berfungsi lagi sebagai tempat pertemuan bagi perkumpulan-perkumpulan nasionalis yang sifatnya politis karena waktu itu Jepang melarang adanya perkumpulan-perkumpulan macam itu beserta aktivitas-aktivitasnya.[21]

Berkurangnya aktivitas politik di GNI Surabaya pada masa Jepang berangsur-angsur memudarkan gedung ini yang dipandang sebagai simbol politik kaum priyayi. Yang sering datang ke GNI Surabaya justru dari kalangan rakyat biasa dengan alasan menonton pertunjukan kesenian. Seperti yang telah disebutkan di atas, kesenian masih boleh pentas di gedung itu dengan syarat tema yang dipentaskan tidak sampai mengkritik pemerintah militer Jepang.

Untungnya pemerintah militer Jepang di Indonesia tidak berlangsung lama. Kekuasaan Jepang merapuh ketika Sekutu berhasil membom atom Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945). Kekuasaan Jepang semakin runtuh ketika harus menyerah tanpa syarat kepada Sekutu tanggal 15 Agustus 1945. Praktis di Indonesia mengalami vacum of power. Maka terjadilah peristiwa Rengasdengklok pada malam harinya dimana Soekarno dan Hatta dibawa oleh golongan pemuda ke Rengasdengklok untuk didesak supaya segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pada 17 Agustus 1945 pagi, Indonesia resmi menjadi negara merdeka melalui proklamasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Soekarno.

Berita tentang proklamasi tersebut baru sampai di Surabaya tanggal 18 Agustus 1945 melalui papan pengumuman di muka gedung kantor berita Domei di jalan Pasarbesar. Namun berita resminya baru sampai pada tanggal 20 Agustus 1945 melalui surat kabar Soeara Asia. Masyarakat Surabaya kemudian bereaksi dengan melakukan gerakan penurunan bendera-bendera Jepang. Reaksi juga datang dari tentara Sekutu yang menyebarkan pamflet berupa bendera Belanda dan gambar Ratu Wilhemnia diikuti pesan agar orang-orang Belanda di Surabaya siap menyambut pendaratan tentara Sekutu. Hal itu menjadi angin segar bagi mereka yang baru bebas dari kamp interniran Jepang untuk memulai aksinya. Menyikapi hal itu, Sungkono, drg. Moestopo dan beberapa tokoh lainnya membentuk BKR (Barisan Keamanan Rakyat) kota di GNI Surabaya.[22] Peristiwa tersebut menandakan berfungsinya kembali GNI Surabaya sebagai tempat pertemuan yang bersifat politis setelah sebelumnya dilarang pada masa Jepang.

Pada kesempatan selanjutnya, tanggal 21 September 1945 Surabaya dijadikan sebagai tempat pertemuan KNID (Komite Nasional Indonesia Daerah) Surabaya tepatnya di bagian pendoponya. KNID Surabaya sendiri dibentuk tanggal 22 Agustus 1945. Komisi tersebut mengadakan pertemuan disebabkan kondisi Surabaya waktu itu belum aman sepenuhnya apalagi pasca insiden bendera.

Insiden diawali ketika Sekutu menjajaki Surabaya, tepatnya tanggal 16 September 1945. Beberapa tentara yang merupakan wakil pihak Sekutu sebagai bagian dari upaya RAPWI (Pemulihan Tahanan dan Interniran Sekutu) untuk menolong para interniran dan orang-orang Indo. Mereka bermarkas di Hotel Yamato (Hotel Oranje) dan menerima kunjungan dari orang-orang Belanda dan Indo yang tersisa. Suasana semakin mencekam ketika beberapa kelompok kecil bekas interniran berkumpul di Hotel Yamato dan markas besar Palang Merah di seberang jalan untuk bertindak provokatif dengan mengibarkan bendera Belanda. Tindakan tersebut segera dibalas oleh beberapa masyarakat Surabaya yang terprovokasi dengan menyobek bagian biru dari bendera Belanda di pucuk salah satu bagian gedung Hotel Yamato. Keadaan menjadi rusuh dan memakan satu korban jiwa yang diidentifikasi sebagai Mr. W.V. Ch. Ploegman.[23]

Pertemuan KNID di GNI Surabaya tersebut dipimpin oleh Doel Arnowo yang merupakan ketua. Para anggota KNID berdebat mengenai resiko-resiko yang dihadapi jika berusaha menyerang Hotel Oranje dan mendengarkan pendapat Moestopo sebagai wakil BKR yang bersikeras mengambil alih hotel tersebut.[24]

Pada hari yang sama di bagian lain GNI berlangsung rapat kedua yang dipimpin oleh Roeslan Abdulgani. Rapat itu membicarakan persiapan untuk melucuti pasukan Jepang yang masih ada di Surabaya dan pengumpulan senjata untuk melawan sekutu. Hasil yang dicapai adalah menolak pendekatan persiapan untuk menghadapi ancaman Belanda bersama Jepang dan Sekutu dan lebih mendorong perlawanan aktif melawan Jepang, serta pembentukan Pemuda Republik Indonesia (PRI).[25]

Ketika pertempuran Nopember 1945, GNI Surabaya masih menjadi Pusat Darurat BKR Surabaya sampai pasca terbunuhnya Mallaby gedung tersebut ditinggalkan tanpa ada yang mengurus lagi. Bahkan pada tanggal 29 Nopember 1945 pendopo dan paviliun selatan GNI Surabaya hancur terkena mortir. Baru pada tahun 1949 setelah ditinggalkan tanpa ada pemilik, gedung tersebut diurus oleh pengurus baru sejak Februari 1949 sampai September 1950. Pengurus baru tersebut merupakan beberapa anggota Parindra yang sudah kembali ke Surabaya karena beberapa pengurus lama GNI Surabaya masih berada di daerah pengungsian. Adapun susunannya sebagai berikut:

Ketua : Dr. Soekandar

Penulis : R.P. Amang Makmoer

Bendahara : Mr. Iskaq Tjokrohadisoerjo

Pembantu : Imam Soepardi

Pembantu : Dr. Iskandar

Pembantu : Soegeng

Pembantu : Soewondo

Fungsinya dikembalikan yaitu pendopo tetap menjadi balai pertemuan umum dengan prioritas untuk persidangan (rapat-rapat) dan pertunjukan-pertunjukan kesenian salah satunya adalah ludruk.[26]

Pengurus baru GNI Surabaya selain memfungsikan kembali gedung, juga memiliki program untuk mendirikan asrama mahasiswa. Tanah yang digunakan untuk itu adalah tanah milik kota besar Surabaya yang terletak di sekitar Kalibokor, di jalan Pucang Anom dengan cara menyewa.

Perusahaan Pasar, Tanah, dan Rumah (Perusahaan PRT) Kota Surabaya yang mengurusi penyewaan tanah tersebut memberi syarat-syarat kepada Yayasan GNI Surabaya antara lain tanah yang disewakan seluas +/- 19.200 meter persegi dengan lama pembangunan dibatasi selama 2 tahun harus selesai dan dapat ditempati, uang sewa ditetapkan sebesar Rp 0,90 per meter persegi setahun dan harus dibayar dimuka untuk satu tahun sebelum perjanjian resmi sewa-menyewa ditandatangani, sewa dilakukan dalam jangka panjang selama 10 tahun dan dapat diperpanjang lagi selama 5 tahun, pengosongan tanah hingga selesai untuk dibangun menjadi tanggungan Yayasan GNI, jika Yayasan GNI membatalkan permohonannya sesudah menandatangani konsep perjanjian sewa-menyewa maka perjanjian itu dianggap berjalan 1 tahun dan yayasan diwajibkan membayar uang sewa penuh untuk 1 tahun.[27]

Pada tahun 1965 GNI Surabaya mengalami renovasi. Hal itu berdasarkan atas surat dari Panitia Perumahan Bagi Pahlawan Kemerdekaan Nasional Jakarta tanggal 1 Maret 1965 No. 021/P3KN/III/65 sesuai kehendak presiden Soekarno untuk memberi penghargaan kepada almarhum Dr. Soetomo. Sejak tanggal 20 Maret 1965 pendopo GNI Surabaya diperbaiki, diarsiteki oleh Ir. R. Soendjasmono dengan biaya sekitar Rp 36.000.000,00. Tidak lama kemudian, pengelolaan GNI Surabaya beserta harta kekayaannya diambil alih oleh Pemerintah Kota Surabaya sebagai bagian dari tugasnya memelihara monumen-monumen nasional. Saat itu susuna pengurus GNI Surabaya antara lain:

Ketua : M. Soebjakto

Penulis : R. Wawardi

Bendahara : R.S. Djojosoedarmo

Pembantu : R.M.H Soejono

Pembantu : S. Ardjosepoetro

Penetapan itu diresmikan pada 20 Mei 1965 pukul 08.00 dengan didahului oleh ziarah ke makam Dr. Soetomo yang juga berada di GNI Surabaya.[28]


Daftar Pustaka

Buku

Abdulgani, Roeslan.1976. Alm. Dokter Soetomo Yang Saya Kenal. Jakarta: Yayasan

Idayu.

Boedhimoerdono, 2003, Jalan Panjang menuju Kota Pahlawan, Surabaya: Pusura.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Frederick, William. H. 1989. Pandangan dan Gejolak, Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi Indonesia (Surabaya 1926-1946). Jakarta: Gramedia.

Ingleson, John. 1988. Jalan ke Pengasingan, Pergerakan Nasionalis Indonesia Tahun 1927-1934. Jakarta: LP3ES.

Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional, dari Kolonialisme sampai Nasionalisme, Jilid II. Jakarta: Gramedia Pustaka Tama.

-------------------------. 2005. Sejak Indische sampai Indonesia. Jakarta: Kompas.

Scherer, Savitri Prasasti. 1985. Keselarasan dan Kejanggalan, Pemikiran-pemikiran Priyayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX. Jakarta: Sinar Harapan.

Van der Veur, Paul. W. 1984. Kenang-kenangan Dokter Soetomo. Jakarta: Sinar Harapan.

Internet

http://bangkitlah-negeriku-indonesiaku.blogspot.com/2008/07/perkembangan-organisasi-pergerakan.html. Diakses pada 7 Desember 2008 pukul 18.38

Arsip

Arsip kantor Gedung Nasional Indonesia (GNI) Surabaya.

Arsip Kota Surabaya No. 19.353 Box 940.



[1] Mengenai hal tersebut selengkapnya dapat dilihat di Paul W. Van der Veur, Kenang-kenangan Dokter Soetomo, (Jakarta: Sinar Harapan, 1984), hlm. 48.

[2] Savitri Prastiti Scherer, Keelarasan dan Kejanggalan, Pemikiran-pemikiran Priyayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX, (Jakarta: Sinar Harapan, 1985), hlm. 200.

[3] William H. Frederick, Pandangan dan Gejolak, Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi Indonesia (Surabaya 1926-1946), (Jakarta: Gramedia, 1989), hlm. 67.

[4] Paul W. Van der Veur, op. cit.

[5] Arsip GNI Surabaya.

[6] Tulisan Soetomo tersebut selengkapnya dapat dilihat dalam Paul W. Van der Veur, op. cit., hlm. 73-74.

[7] Arsip GNI Surabaya, op. cit.

[8] Ibid., hlm. 15

[9] Ibid.

[10] Paul W. Van der Veur, op. cit., hlm. 74.

[11] Arsip GNI Surabaya, op. cit.

[13] Soetomo, Teladan dari Polandia dalam Paul W. Van der Veur, op. cit., hlm. 74.

[14] Ibid.

[15] Arsip GNI Surabaya, op.cit.

[16] Roeslan Abdulgani, Alm. Dokter Soetomo Yang Saya Kenal, (Jakarta: Yayasan Idayu, 1976), hlm. 51.

[17] Ibid., hlm. 52.

[18] William H. Frederick, op.cit., hlm.84.

[19] Ibid., hlm. 85.

[20] Ibid., hlm. 86.

[21] Data mengenai GNI Surabaya pada masa pendudukan Jepang sangat jarang, sehingga pemaparan mengenai masa itu juga kurang lengkap dan mendalam.

[22] Boedhimoerdono, Jalan Panjang menuju Kota Pahlawan, (Surabaya: Pusura, 2003), hlm. 134.

[23] Ibid., hlm. 125 dan William H. Frederick, op. cit., hlm. 258.

[24] William Frederick, ibid., hlm. 262.

[25] Ibid., hlm. 263-264.

[26] Arsip GNI Surabaya, op. cit.

[27] Arsip Kota Surabaya, no. 19.353, box 940.

[28] Arsip GNI Surabaya, op. cit.